Pajak dalam Perspektif Islam

Dalam beberapa hari ini, di dalam benak saya terbersit pertanyaan bagaimanakah sebenarnya pandangan Islam terhadap pajak yang dipungut oleh sebuah negara muslim atau negara yang mayoritas muslim seperti negara kita, Indonesia.  Apakah dibolehkan (baca: halal) atau dilarang (baca: haram).  Saya kemudian browsing di Google mencoba mencari artikel dan tulisan mengenai hal tersebut.

Dari mbah Google, saya menemukan begitu banyak artikel dan tulisan mengenai pajak dalam perspektif Islam.  Umumnya artikel itu menyatakan bahwa pajak dalam pandangan Islam adalah haram dengan beragam dalil.  Salah satu dalil yang paling banyak digunakan adalah hadits Rasululloh SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad sebagai berikut:

“sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka”

Hadits itu konon diperkuat oleh hadits lainnya seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad:

Dari Abu Khair Radhiyallohu’anhu, beliau berkata: “Maslamah bin Mahhlad (gubernur di Mesir saat itu) menawarkan tugas penarikan pajak kepada Ruwafi bin Tabit Radhiyallohu’anhu”, maka ia berkata: “Sesungguhnya para penarik/pemungut pajak (diadzab) di neraka.”

Saya pribadi merasa tidak kompeten untuk mengomentari artikel-artikel dan tulisan tersebut. Karena saya merasa tidak faham banyak mengenai hadits-hadits tersebut dan saya tidak mau salah menafsirkan.  Akhirnya, saya kembali browsing di Google dan menemukan sebuah tulisan dari akhwan bernama Nur Kholis yang dimuat pada http://nurkholis77.staff.uii.ac.id.

Ada Tiga Pendapat

Dari artikel itu, saya memperoleh informasi bahwa sampai saat ini pun para ‘alim ulama masih berbeda pendapat mengenai hal ini.  Sebagian ada yang mengatakan haram hukumnya mengenakan pajak, khususnya kepada kaum muslimin yang sudah membayar zakat.  Tetapi di sisi lain ada para ahli fiqh yang membolehkan (menganggap halal).  Masing-masing diperkuat dengan dalil baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Namun demikian, dalam artikelnya akhwan Nur Kholis menyampaikan bahwa di samping kedua pendapat tersebut, ada beberapa ulama dan ahli fiqh yang tergolong sebagai ulama ‘poros tengah’.  Mereka berpendapat bahwa kewajiban seorang Muslim atas harta tetap hanya zakat.  Akan tetapi jika terjadi kondisi yang menghendaki adanya keperluan tambahan (darurah/darurat), maka akan ada kewajiban tambahan berupa pajak (dharibah).  Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Qadhi Abu Bakar Ibn Al-Aarabi, Imam Malik, Imam Qurtubi, Imam Syatibi, dan Mahmud Syaltut.

Dalam tulisan lain (di muat pada http://islam-full.blogspot.com dengan judul tulisan Bagaimana Sebenarnya Pajak dalam Islam), saya membaca sebuah riwayat bahwa dalam kondisi Baitul Mal sedang kesulitan keuangan pun, umat muslimin waktu itu dikenai kewajiban membayar dharibah (taxes/pajak) oleh Rasululloh SAW.  Akan tetapi, pada saat kesulitan keuangan sudah teratasi, dharibah kemudian dihapuskan dan tidak diberlakukan.

Alasan utama diperbolehkannya memungut pajak menurut kedua tulisan tersebut adalah untuk kemashlahatan umat.  Sebab jika dana milik pemerintah (zaman Rasululloh SAW disebut Baitul Mal) tidak mencukupi untuk membiayai berbagai pengeluaran, maka dikhawatirkan akan menimbulkan kemadharatan.  Padahal mencegah kemadharatan juga merupakan kewajiban.

Menurut ulama poros tengah, meskipun diperbolehkan namun pajak tidak boleh dipungut dengan cara paksa dan kekuasaan semata.  Pemungutan pajak harus diimbangi dengan pelaksanaan tugas negara yang menjadi kewajibannya terhadap warga misalnya memberikan rasa aman, pengobatan, pendidikan, dan lain sebagainya.  Dengan kata lain, pajak menurut ulama poros tengah harus dipandang oleh negara sebagai sebuah amanah sehingga wajib dibelanjakan (digunakan) secara jujur dan efisien untuk merealisasikan maqasid (tujuan) negara memakmurkan dan memashlahatkan umat (warga negara).

Lalu bagaimana dengan negara kita Indonesia? Apakah pemungutan pajak di Indonesia masuk dalam kategori diperbolehkan, halal atau haram?

About these ads

Want to Comment...?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s