Kendala Tarif di e-SPT PPh Pasal 21

Tanggal 15 November 2011 yang baru lalu, saya diminta oleh seorang rekan untuk mengisi training perpajakan dengan tema PPh Pasal 21 dan aplikasi e-SPT PPh Pasal 21.  Dalam sesi diskusi (tanya-jawab), terungkap satu kendala dalam penghitungan PPh Pasal 21, khususnya PPh Pasal 21 Final atas penghasilan berupa Uang Manfaat Pensiun yang dibayar sekaligus.

Ceritanya begini, salah seorang peserta adalah pengurus di DPPK (Dana Pensiun Pemberi Kerja) sebuah perusahaan dan DPPK tersebut sudah mendapat pengesahan dari Menteri Keuangan.  Pada suatu waktu, ada beberapa karyawan yang pensiun yang hendak mengambil seluruh uang pensiunannya dan jumlahnya di atas Rp 100 juta.  Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 68/2009, terhadap Uang Manfaat Pensiun yang dibayarkan secara sekaligus tersebut dikenakan PPh Pasal 21 bersifat final dengan ketentuan sebagai berikut:

  • terhadap Uang Manfaat Pensiun sampai dengan Rp 50.000.000,- dikenakan tarif 0%;
  • terhadap Uang Manfaat Pensiun lebih dari Rp 50.000.000,- dikenakan tarif 5%

Kalau penghitungan tidak dilakukan melalui e-SPT, itu tidak masalah.  Tetapi jika harus dilakukan melalui e-SPT, maka untuk Uang Manfaat Pensiun di atas Rp 100.000.000,- akan dikenakan tarif PPh Pasal 21 sebesar 15%.  Hal ini terjadi karena tarif PPh Final yang disediakan di e-SPT PPh Pasal 21 hanya untuk Uang Pesangon.

Mungkin di antara pengunjung dan Pembaca blog saya ini punya solusi untuk mengatasi kendala ini atau pernah mendapat penjelasan dari pihak KPP (Account Representative)?

7 comments

  1. :D Maaf, format di atas untuk Uang Pesangon, tapi konsep yang sama dapat digunakan untuk Uang Pensiun dengan cara mengubah lapisan menjadi:

    Rp0 s.d. Rp50.000.000 0%
    Rp50.000.000 s.d. Rp100.000.000.000 5%
    Rp100.000.000.000 s.d. Rp110.000.000.000 15%
    Rp110.000.000.000 s.d. Rp120.000.000.000 25%
    Rp120.000.000.000 25%
    intinya kita ambil batas atas adalah nominal yang sangat besar.

    format PPh Final Pensiun dan Pesangon memang tidak disediakan masing-masing, sehingga bila terjadi 2 jenis pembayaran tersebut, Pemotong PPh 21 perlu mengganti pula settingan tarif untuk Pesangon, lalu mengubah lagi settingan tarif bila akan menghitung Pensiun.

    Semoga membantu.

    1. Cara itu juga sudah saya coba. Cuma pada saat saya akan menghitung uang pensiun dan saya ubah setting tarifnya, PPh Pasal 21 Pesangonnya juga ikut berubah. Begitu pula saat saya ubah lagi menjadi setting tarif pesangon, PPh Pasal 21 uang pensiunnya berubah lagi mengikuti pesangon. Jadi jumlah yg ada di SPT Masa PPh 21 beda dgn hitungan yg seharusnya.

      Btw, thanks atas masukannya… :)

      1. ooo… jadi pada saat bersamaan ya, Pak…
        Coba dikontak KRING PAJAK 500200, Pak, di sana setau saya ada IT khusus e-SPT yang standby…
        :)

      2. jalan terakhir adalah dengan kita input manual, Pak :)
        jadi kita buat worksheet hitungan sendiri, hasilnya kita pindahkan ke inputan bukti potong e-SPT… :)

  2. di menu Utility-Setting Tarif-Pasal 21 Final diubah lapisannya menjadi
    Rp0 s.d. Rp50.000.000 0%
    Rp50.000.000 s.d. Rp100.000.000 5%
    Rp100.000.000 s.d. Rp500.000.000 15%
    Rp500.000.000 s.d. Rp100.000.000.000 25%
    Rp100.000.000.000 25%

    nominal Rp100 miliar dipilih sebagai angka nominal yang sangat besar. yang sekiranya tidak mungkin dibayarkan pensiun senilai itu, hanya merupakan batas atas saj supaya rumus dapat terbentuk dalam aplikasi e-SPT PPh 21 tersebut.
    Semoga membantu.

Want to Comment...?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s