Transfer Pricing – Part #3

Penetapan Harga Transfer

Seperti telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya (Transfer Pricing – Part #2, Antisipasi dari Dirjen Pajak), untuk membuktikan bahwa kita—Wajib Pajak—telah menerapkan prinsip ALP maka kita harus memiliki dokumentasi yang namanya Transfer Pricing Documentations atau yang kerap disebut dengan singkatan TP Docs dan seluruh harga dalam transaksi dengan afiliasi sudah sesuai dengan TP Docs tersebut.

 

 

TP Docs adalah sekumpulan catatan atau dokumentasi tertulis yang berisi penjelasan mengenai penentuan nilai atau harga transfer yang kita gunakan untuk setiap transaksi antar afiliasi yang kita lakukan. Di dalam TP Docs inilah kita menjelaskan secara tertulis mengenai:

  • bentuk-bentuk atau jenis-jenis transaksi yang kita lakukan dengan pihak afiliasi;
  • nilai nominal harga transfer (harga transaksi) yang kita terapkan untuk setiap transaksi dengan pihak afiliasi; dan
  • nilai nominal harga transfer (harga transaksi) yang berlaku di pasaran yang dijadikan sebagai pembanding untuk menetapkan harga transfer atas transaksi kepada pihak afiliasi.

 

Ragam Transaksi Afiliasi

Jenis-jenis transaksi dengan afiliasi secara umum hampir sama dengan transaksi dengan pihak non-afiliasi (pihak independen), yaitu semua jenis atau bentuk transaksi yang dapat mempengaruhi besar kecilnya penghasilan.  Dalam Lampiran Khusus 3A atau 3B, jenis-jenis transaksi afiliasi yang dimaksud adalah (sesuai dengan kode yang huruf yang harus diisikan pada kolom yang disediakan di Lampiran Khusus tersebut):

  • transaksi penjualan maupun pembelian barang berwujud. Misalnya pembelian atau penjualan bahan baku, barang jadi dan barang dagangan (kode huruf a);
  • transaksi penjualan maupun pembelian barang modal, termasuk aktiva tetap (kode huruf b);
  • transaksi penyerahan maupun pemanfaatan barang tidak berwujud (kode huruf c);
  • transaksi peminjaman uang (kode huruf d);
  • transaksi penyerahan jasa (kode huruf e);
  • transaksi penyerahan maupun perolehan instrumen keuangan seperti saham dan obligasi (kode huruf f); dan
  • dan transaksi lainnya yang tidak tercakup dalam keenam bentuk transaksi di atas (kode huruf g).

 

Penetapan Harga Transfer

Selain menyebutkan jenis atau bentuk transaksi afiliasi yang kita lakukan, dalam TP Docs kita juga harus menyebutkan berapa nilai nominal harga transfer yang kita terapkan untuk setiap transaksi afiliasi tersebut.  Dan untuk menentukan nilai nominal harga transfer ini, kita harus menghitungnya dengan menggunakan formula atau metode penetapan harga transfer yang sudah ditentukan dan sudah berlaku umum secara internasional.

Seperti disebutkan dalam PER-32/PJ/2011, hingga saat ini ada 5 (lima) metode penetapan harga transfer yang dapat diterapkan oleh WP, dan yang berlaku secara internasional, yaitu:

  1. metode perbandingan harga antara pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa (comparable uncontrolled price/CUP);
  2. metode harga penjualan kembali (resale price method/RPM) atau metode harga jual minus (Sales Minus Method);
  3. metode biaya-plus (cost plus method/CPM);
  4. metode laba bersih transaksional (transactional net margin method/TNMM); atau
  5. metode pembagian laba (profit split method/PSM).

Kelima metode penetapan harga transfer tersebut harus diterapkan secara hierarkis dimulai dari metode CUP.  Apabila karena satu atau lain hal metode CUP tidak dapat diterapkan atau dirasa kurang tepat untuk diterapkan, maka kita harus menerapkan perhitungan dengan menggunakan metode RPM atau CPM.

Dan apabila metode RPM atau CPM-pun dirasa masih kurang tepat, maka kita harus menerapkan harga transfer berdasarkan metode TNMM atau metode PSM.  Seluruh perhitungan dan step-step dalam menentukan harga transfer ini harus didokumentasikan secara tertulis dan menjadi bagian penting dari TP Docs kita.

 

Comparable Uncontrolled Price

Comparable Uncontrolled Price atau CUP Method, dapat diterapkan apabila kita selain melakukan transaksi dengan pihak afiliasi juga melakukan transaksi tersebut dengan pihak non-afiliasi (independen).

Misalnya kita memproduksi barang X di mana barang X itu kemudian kita jual baik kepada pihak afiliasi kita maupun kepada pihak non-afiliasi (independen).  Dalam hal ini, transaksi penjualan yang kita lakukan kepada pihak non-afiliasi (independen) ini disebut dengan Data Pembanding Internal.  Dengan menggunakan Data Pembanding Internal ini, selanjutnya kita harus menentukan berapa harga transfer yang seharusnya kita terapkan untuk transaksi penjualan kepada pihak afiliasi kita.

Misalnya barang X itu kita jual kepada beberapa perusahaan non-afiliasi (independen) dengan rincian sebagai berikut (yang disebut sebagai Data Pembanding Internal):

Uraian

A Ltd

B Inc.

C Corp.

HPP Barang X

1.000,00

1.000,00

1.000,00

Margin Laba 20%

200,00

200,00

200,00

Harga Jual

1.200,00

1.200,00

1.200,00

Diskon

25,00

50,00

75,00

Ongkos Angkut

100,00

100,00

100,00

Harga yang Ditagih

1.275,00

1.250,00

1.225,00

Berdasarkan ketiga data pembanding internal tersebut, berarti harga jual yang harus kita terapkan untuk transaksi dengan afiliasi kita juga harus Rp 1.200,00 atau tidak boleh lebih rendah dari pada harga yang kita terapkan terhadap pihak non-afiliasi (independen).  Begitu pun dengan diskon, paling banyak diskon yang bisa kita berikan kepada afiliasi harus berada dalam rentang antara Rp 25,00 hingga Rp 75,00 (tidak boleh lebih tinggi dari pada diskon yang kita berikan kepada pihak non-afiliasi atau pihak independen).

Sesuai dengan petunjuk PER-32/PJ/2011 maupun Transfer Pricing Guidelines yang dikeluarkan oleh dewan OECD, metode CUP dapat diterapkan dalam kondisi di mana barang atau jasa yang kita transaksikan kepada afiliasi maupun non-afiliasi adalah barang yang memiliki karakteristik yang identik dan dalam kondisi yang sebanding.  Selain itu, kondisi transaksi kepada afiliasi maupun non-afiliasi itu juga harus identik dan memiliki tingkat kesebandingan yang tinggi.  Jika transaksi afiliasi yang kita lakukan tidak sama persis dengan transaksi yang kita lakukan kepada non-afiliasi, namun sepanjang terhadap perbedaan itu masih dapat dilakukan penyesuaian untuk menghilangkan pengaruh-pengaruh yang material, maka perbedaan tersebut masih dapat diterima dalam penerapan metode CUP.

 

Cost Plus Method

Apabila kita tidak mempunyai Data Pembanding Internal, atau dengan kata lain kita hanya melakukan transaksi dengan pihak afiliasi dan tidak pernah melakukan transaksi dengan pihak non-afiliasi (independen), berarti kita harus mencari Data Pembanding Eksternal untuk dijadikan sebagai pembanding atas harga transfer yang kita terapkan untuk transaksi afiliasi yang kita lakukan.

Data Pembanding Eksternal ini, haruslah berupa transaksi yang dilakukan oleh mereka yang satu sama lainnya tidak memiliki Hubungan Istimewa (bukan transaksi afiliasi antar group) tetapi transaksi itu sejenis atau sama seperti transaksi afiliasi yang kita lakukan.

Untuk dapat menerapkan Cost Plus Method (CPM), informasi yang harus kita dapatkan dari Data Pembanding Eksternal tersebut terutama mengenai biaya yang dikeluarkan oleh pihak independen untuk menghasilkan barang atau jasa tersebut dan besarnya laba kotor (gross margin) yang diterapkan oleh pihak independen saat menjual barang atau jasa tersebut kepada pihak independen lainnya.

Misalnya kita memproduksi barang X dangan Harga Pokok Produksi (HPP) Rp 70.000,00 dan menjualnya kepada afiliasi kita dengan harga jual Rp 77.000,00.  Dalam hal ini berarti laba kotor yang kita terapkan terhadap penjualan kepada afiliasi kita itu = (Rp 77.000,00 – Rp 70.000,00) ÷ Rp 70.000,00 = 10% dari HPP.

Kemudian misalnya kita memperoleh informasi dari data dunia bisnis, bahwa PT XXX juga memproduksi barang X, sama dengan produksi kita, dengan biaya atau HPP Rp 75.000,00. Kemudian PT XXX menjual barang X produksinya kepada pihak independen seharga Rp 85.000,00 yang berarti laba kotor yang PT XXX terapkan sebesar = (Rp 85.000,00 – Rp 75.000,00) ÷ Rp 75.000,00 = 13,33% dari HPP.  Informasi mengenai transaksi yang dilakukan oleh PT XXX ini disebut dengan Data Pembanding Eksternal.

Dengan membandingkan harga milik PT XXX, maka harga jual wajar yang seharusnya kita terapkan terhadap afiliasi kita, menurut prinsip ALP dan metode Cost Plus, adalah = Rp 70.000,00 + (Rp 70.000,00 x 13,33%) = Rp 79.333,00.

Menurut PER-32/PJ/2011 dan OECD Guideline, metode CPM ini sangat tepat digunakan dalam kondisi di mana barang yang dijual kepada afiliasi adalah barang setengah jadi atau transaksi yang terjadi antar afiliasi itu adalah transaksi penyediaan jasa. Di samping itu, metode ini juga tepat diterapkan dalam kondisi dimana antar afiliasi tersebut memiliki kontrak atau perjanjian penggunaan fasilitas bersama (joint facility agreement) atau kontak jual beli jangka panjang (long term buy and supply agreement).

 

Resale Price Method

Jika seandainya kita mengetahui bahwa barang yang kita jual kepada afiliasi kita tadi kemudian dijual kembali oleh afiliasi kita kepada pihak independen (non-afiliasi) dengan menambahkan laba kotor (gross margin) tertentu, maka selain metode CPM kita juga dapat menerapkan metode Resale Price Method (RPM)—yang kadang disebut juga dengan Sales Minus Method.

Untuk bisa menerapkan metode RPM ini, kita harus terlebih dahulu mengetahui apakah laba kotor (gross margin) yang diterapkan oleh afiliasi kita pada saat mereka menjual kembali produk yang mereka beli dari kita itu sudah sesuai dengan laba kotor (gross margin) wajar yang berlaku di pasaran.

Misalnya begini, kita menjual barang X kepada afiliasi kita seharga Rp 10.000,00 dan afiliasi kita kemudian menjual kembali barang X itu kepada pihak independen dengan harga Rp 20.000,00.  Selanjutnya, jika misalnya kita memperoleh informasi bahwa laba kotor wajar (gross margin) yang berlaku di pasaran untuk transaksi sejenis seperti yang dilakukan oleh afiliasi kita sebesar 25%, maka harga jual kita ke afiliasi kita seharusnya bukan Rp 10.000,00 melainkan= Rp 20.000,00 – (Rp 20.000,00 x 25%) = Rp 15.000,00.

Metode RPM, sesuai dengan petunjuk PER-32/PJ/2011, dapat diterapkan dalam kondisi  di mana tingkat kesebandingan antara data pembanding dan transaksi afiliasi yang diperbandingkan tersebut tinggi, khususnya tingkat kesebandingan berdasarkan hasil analisis fungsi meskipun barang atau jasa yang ditransaksikan berbeda. Metode ini pun bisa digunakan apabila pihak reseller tidak memberikan nilai tambah yang signifikan terhadap barang atau jasa yang diperjualbelikan.

 

Transactional Net Margin Method

Metode ini diterapkan dengan cara membandingkan Laporan Keuangan kita dengan Laporan Keuangan Wajib Pajak lain yang sejenis tetapi melakukan transaksi dengan pihak independen.  Dengan metode Transactional Net Margin Method (TNMM) penerapannya tidak menggunakan pendekatan harga transaksi (pricing transaction approach) melainkan lebih menekankan pada pendekatan pengujian laba (total profit approach).  Metode TNMM ini dapat digunakan bilamana salah satu afiliasi dalam transaksi antar-afiliasi tersebut melakukan kontribusi khusus atau melakukan transaksi yang kompleks dan berhubungan dengan transaksi afiliasi yang lain.

Melalui penetapan rasio benchmarking seperti yang dituangkan dalam beberapa Surat Edaran (SE), Dirjen Pajak sebenarnya sedang berusaha metode TNMM ini dalam rangka menguji kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak.  Penetapan rasio benchmarking itu sendiri sudah dilakukan sejak 2009 melalui SE-SE berikut:

  • SE-96/PJ/2009, tanggal 5 Oktober 2009, tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk Pemanfaatannya;
  • SE-11/PJ/2010, tanggal 1 Februari 2010, tentang Penetapan Rasio Total Benchmarking Tahap II;
  • SE-68/PJ/2010, tanggal 27 Mei 2010, tentang Penetapan Rasio Total Benchmarking Tahap III;
  • SE-105/PJ/2010, tanggal 20 Oktober 2010, tentang Penetapan Rasio Total Benchmarking Tahap VI; dan
  • SE-139/PJ/2010, tanggal 17 Desember 2010, tentang Penetapan Rasio Total Benchmarking Tahap V.

 

Ptofit Split Method

Metode terakhir yang dapat diterapkan, apabila keempat metode di atas tidak dapat diterapkan, adalah metode Profit Split Method (PSM).  Metode ini juga menggunakan pendekatan laba transaksional (transactional profit methode based) dan diterapkan dengan cara mengidentifikasi laba gabungan atas transaksi afiliasi di mana kemudian laba gabungan itu akan dibagi kepada masing-masing anggota group afiliasi.

Pembagian laba gabungan kepada anggota group afiliasi tersebut tentunya menggunakan dasar yang dapat diterima secara ekonomi dan dapat mencerminkan laba wajar antara pihak-pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa.  Metode yang biasa digunakan untuk menghitung pembagian laba gabungan ini biasanya Contribution Profit Split Method (metode kontribusi) atau Residual Profit Split Method (metode sisa pembagian laba).

Seperti tertuang dalam Pasal 11 ayat (12) PER-32/PJ/2011, metode PSM ini secara khusus hanya dapat diterapkan dalam kondisi di mana transaksi antara pihak yang berafiliasi sangat terkait satu sama lain sehingga tidak mungkin untuk dilakukan kajian secara terpisah. Kondisi lain misalnya jika dalam transaksi antar afiliasi itu terdapat barang tidak berwujud (intangible goods) yang unik yang sangat sulit untuk dicarikan data pembanding yang tepat.

 

Kendala Penerapan

Dalam prakteknya, saat mencari data pembanding baik Data Pembanding Internal maupun Data Pembanding Eksternal, yang akan digunakan dalam setiap metode yang disebutkan di atas tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.  Sebab sesuai dengan petunjuk yang ada di PER-32/PJ/2011 maupun OECD-Transfer Pricing Guidelines, dalam menentukan data pembanding mana yang akan digunakan dalam metode-metode penerapan harga transfer tersebut, kita harus memperhatikan apakah data pembanding itu memiliki tingkat kesebandingan yang cukup atau tidak.

Kata-kata ‘…memiliki tingkat kesebandingan yang cukup…’ itu mengandung maksud bahwa kondisi dan keadaan dari transaksi pembanding yang akan dibandingkan tidak memiliki beda material dengan transaksi afiliasi kita dalam penentuan harga transfer.  Namun untuk bisa mendapatkan data pembanding seperti ini dalam kenyataannya bisa dibilang ibarat mencari sebuah jarum dalam tumpukan jerami. Perbedaan antar transaksi-transaksi pembanding tersebut, yang bisa menimbulkan perbedaan dalam menentukan menentukan harga transaksi, biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal.

Faktor internal yang kerap kali menimbulkan perbedaan harga jual atau harga transaksi antar sesama pengusaha misalnya karena adanya perbedaan strategi maupun kebijakan penjualan yang disebabkan oleh perbedaan skala bisnis, biaya produksi, letak geografis, daya beli konsumen (tingkat penawaran dan permintaan), tingkat persaingan.  Sementara faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kondisi dan harga transaksi misalnya terkait dengan kebijakan politik, ekonomi, sosial dan budaya dari pemerintah yang bersangkutan.

Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian dalam memastikan apakah data atau transaksi pembanding yang dipilih secara ekonomis memiliki tingkat kemiripan yang paling mendekati (as close as practicable similarity) dengan transaksi afiliasi yang bersangkutan.

Prinsip kehati-hatian ini seyogyanya tidak hanya berlaku WP tetapi juga berlaku bagi fiskus (pemeriksa pajak) saat melakukan pemeriksaan dan koreksi terhadap issue transfer pricing.

–ooOOoo–

Artikel terkait:

Pamulang, 28 September 2012

One comment

Want to Comment...?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s